Awal Aku Mulai Kenal Pak RK




Kota itu tak pernah benar-benar tidur. Lampu-lampu jalan berkilau seperti rahasia yang enggan padam, sementara gedung-gedung tinggi berdiri angkuh, menyimpan cerita di balik kaca-kaca beningnya. Di salah satu sudut kota, Aruna berdiri di balkon apartemennya, memandang lalu lintas yang mengalir seperti nadi kehidupan. Dari kejauhan, klakson terdengar samar—cukup keras untuk mengganggu, namun terlalu jauh untuk dipedulikan.

Aruna dikenal publik sebagai aktris berbakat dengan senyum hangat yang selalu tampak tulus. Ia kerap tampil di layar lebar, diwawancarai media, dan dielu-elukan penggemar. Namun, malam itu, sorot kamera tak ada. Yang tersisa hanya seorang perempuan yang menimbang pilihan hidupnya sendiri.

Di lantai lain gedung yang sama, Darma duduk sendirian di ruang kerjanya. Seorang pemimpin yang disegani, namanya kerap muncul di berita sebagai figur yang tegas dan berintegritas. Banyak yang mengaguminya—bahkan menjadikannya panutan. Di atas meja kerjanya tergeletak berkas-berkas yang belum ditandatangani, namun pikirannya melayang jauh dari urusan pekerjaan.

Pertemuan mereka bermula tanpa rencana. Sebuah acara sosial mempertemukan Aruna dan Darma di tengah keramaian yang riuh. Keduanya datang dengan agenda masing-masing, tersenyum kepada banyak orang, berbincang seperlunya. Namun, di sela formalitas itu, ada percakapan singkat yang terasa berbeda—lebih jujur, lebih ringan, dan entah mengapa, lebih dekat.

“Kadang kita terlalu sibuk memainkan peran,” kata Aruna waktu itu, menatap segelas air mineral di tangannya.
Darma tersenyum tipis. “Dan lupa bagaimana rasanya menjadi diri sendiri.”

Kalimat sederhana itu menjadi awal. Mereka mulai bertukar pesan—awalannya tentang pekerjaan, tentang tekanan yang datang bersama sorotan publik. Dari sana, percakapan beralih pada buku favorit, musik yang menemani malam, hingga kegelisahan yang jarang mereka bagi pada siapa pun.

Tak ada niat buruk, setidaknya demikian yang mereka yakini. Namun, niat baik sering kali rapuh ketika perasaan tumbuh tanpa izin.

Hari-hari berlalu, dan pertemuan menjadi semakin sering. Bukan di tempat ramai, melainkan di sudut-sudut kota yang sunyi—kedai kopi kecil dengan lampu temaram, galeri seni yang hampir tutup, atau mobil yang terparkir terlalu lama di pinggir jalan. Mereka berbicara tentang mimpi yang tertunda, tentang pernikahan yang terasa seperti rutinitas, tentang jarak emosional yang perlahan melebar.

Aruna pulang ke apartemen dengan langkah gontai. Ia menatap cermin dan bertanya pada bayangannya sendiri: Sejak kapan aku merasa lebih didengar oleh orang lain?
Darma, di sisi lain, menyembunyikan ponselnya setiap kali pulang ke rumah. Ia mencium kening istrinya dengan rasa bersalah yang tak terucap.

Di balik layar kehidupan publik yang sempurna, ada retakan yang tak kasatmata. Mereka tak pernah menyebut kata itu—perselingkuhan. Sebab memberi nama berarti mengakui. Dan pengakuan adalah pintu menuju kehancuran.

Kota mulai berbisik. Seorang penggemar melihat Aruna di sebuah kedai kopi, duduk dengan pria yang tak dikenalnya. Seorang staf Darma menangkap bayangan pertemuan yang terlalu sering. Gosip tumbuh subur, dipelihara oleh potongan foto buram dan asumsi yang saling menyambung.

Aruna membaca komentar di media sosial dengan tangan gemetar. Tuduhan, spekulasi, dan vonis moral berseliweran. Tak satu pun tahu kebenaran, namun semua merasa berhak menghakimi.
Darma menerima panggilan dari koleganya—peringatan halus yang dibungkus kepedulian. Reputasi, katanya, adalah mata uang yang paling mahal.

Malam itu, mereka bertemu untuk terakhir kalinya—setidaknya itu yang mereka rencanakan. Di sebuah taman kota yang sepi, angin menggerakkan dedaunan kering, menambah kesan rapuh pada suasana.

“Kita harus berhenti,” kata Darma pelan.
Aruna mengangguk, meski matanya berkaca-kaca. “Aku tahu.”

Tak ada drama besar. Tak ada janji muluk. Hanya dua orang yang menyadari bahwa apa pun yang mereka rasakan telah melampaui batas yang aman. Mereka duduk dalam diam, membiarkan waktu berjalan tanpa berusaha menahannya.

Namun, berhenti bukan berarti selesai. Jejak digital tak mudah dihapus. Keesokan harinya, berita bermunculan—judul-judul sensasional yang menjual tanda tanya. Klarifikasi menjadi kebutuhan, bukan pilihan. Aruna memilih diam, fokus pada pekerjaannya. Darma mengeluarkan pernyataan singkat, menekankan komitmen pada keluarga dan tanggung jawabnya.

Publik terbelah. Ada yang memaafkan, ada yang mengecam. Ada pula yang sekadar menikmati drama tanpa memikirkan dampaknya.

Di balik semua itu, ada konsekuensi yang harus ditanggung. Aruna belajar kembali mencintai kesendirian, menemukan kekuatan pada hal-hal kecil yang dulu ia abaikan. Darma berusaha memperbaiki rumah tangganya, menambal retakan dengan kejujuran yang terlambat.

Kota kembali terang. Gosip berganti topik, perhatian publik berpindah. Namun, bagi Aruna dan Darma, pengalaman itu meninggalkan bekas yang tak sepenuhnya pudar—pelajaran tentang batas, tentang kesepian, dan tentang harga yang harus dibayar ketika perasaan dibiarkan berjalan tanpa kendali.

Di balkon apartemennya, Aruna kembali memandang kota. Kali ini, ia menarik napas panjang dan tersenyum tipis. Bukan karena segalanya telah sempurna, melainkan karena ia tahu—di balik cahaya kota, setiap orang menyimpan bayangannya sendiri. Dan yang terpenting adalah bagaimana kita memilih untuk berdamai dengannya.


Next Post Previous Post